Tampilkan postingan dengan label SCOPE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCOPE. Tampilkan semua postingan

Kepanjen

Weekend. Malam ini, teman-temanku, kuajak bermalam dirumahku. Di tempat yang tak jauh dari pusat kota Malang. Hanya berjarak 20 kilometer kearah selatan. Kota Kepanjen, rumahku terletak disekitar pusat keramaian Kepanjen. Agenda kali ini, bukan untuk memotret ataupun hunting di tempat-tempat wisata. Karena memang disini bukan tempat tujuan para turis. Kami punya agenda yang lebih besar dan hebat. Sebuah perencaan untuk lebih memajukan klub fotografi SCOPE. Kami berencana untuk merenovasi toko menyatu dengan rumahku untuk dijadikan sebuah studio SCOPE.

Pukul 10.00 WIB. Kami tiba dikediamanku. Disini teman-temanku disambut hangat oleh adik dan mamaku. Terlihat wajah kami, terutama raut muka kami, lesu dan lelah. 4 cangkir teh hangat disugukan untuk lebih menghangatkan suasana dan menghilangkan garis-garis kelelahan yang tergores di wajah kami masing-masing.

Malam ini tak kami lewatkan dengan hanya terlelap di tempat tidur. Namun kami gunakan untuk mengobrol. Terutama sebuah tekat yang akan kami bangun bersama. Setelah selang waktu berlalu dan mereka juga telah melihat isi dari toko, kami ganti topik pembicaraan. Sebuah cerita yang masih hangat, tak lain adalah seputar pemilu. Mulai dari partai Demokrat yang merajai suara di berbagai wilayah, PKS yang mulai surut di wilayah jabar, PKB yang tak memiliki suara lagi di jatim dan Gerindra yang mulai turun saat perhelatan yang mana jelas telah berlangsung. Hingga hari telah berganti.

Pagi ini, aku bangun terlambat. Aku dikalahkan oleh sang mentari yang mana telah menunjukkan wajahnya sedari pagi. Kulihat salah satu temanku datang dari luar rumah. Ternyata mereka baru saja berjalan-jalan mengelilingi lingkungan rumahku.

Menilik sebentar sebuah rangkain kata yang tersirat di otakku.
"Lha.... mereka neh kayak lagi berkunjung ke rumah orang yang tinggal di desa pedalaman aja. Kok pake jalan-jalan pagi. Emang mau menghirup udara pagi yang segar? atau melihat-lihat orang yang berjalan dengan segera karena mau ke sawah? Ya ga' bakal ada. Disini neh, sama aja seperti kota Malang. Banyak rumah dan kantor dan industri. Sawah-sawah dah mulai tergeser keberadaannya. Tak ada lagi pohon-pohon hijau yang liar membentang disejauh pandangan. Wah... ini sudah penghinaan yang besar secara tidak langsung. Mereka telah menganggap kota Kepanjen ini seperti des terpencil. Oh..awas kalian!!!", Tapi ini sekali lagi cuma permain konsep yang ada di otakku. Aku tahu, mereka cuma ingin tahu lebih banyak tentang keadaan kotaku.

Sang penguasa siang mulai sedikit menengadah keatas. Aku ajak mereka ke tempat yang paling bisa dibanggakan oleh orang Kepanjen. Sebuah stadion terbesar kedua di Indonesia. Stadion Kanjuruhan. Kami habiskan waktu disini dengan menyimpan memori perjalanan ini dalam sebuah frame.

Weekend yang cukup tak biasa dari weekend yang biasa kulalui.



Pantai Clungup Sendang Biru

Jalan setapak kami telusuri dengan ransel yang membebani pundak kami. Suasana gelap menyelimuti kami dari pekatnya malam. Lebih dari 30 menit kami terus melangkahkan kaki. Sesekali teman sekaligus penunjuk jalan kami, Dominggus, kehilangan arah. Pasalnya jarak pandang kami berkurang. Bahkan bagi diriku pribadi, yang baru pertama kali ketempat ini, sudah tak mampu mengingat dari arah mana kami tadi berjalan. Kanan kiri kami hanya ilalang dan sedikit kebun milik penduduk di seberang pulau ini.

Pulau ini tak berpenghuni. Takkan ada kalian temui orang yang berlalu lalang di tempat ini.Perjalanan kami mirip dengan film "The Beach". Tak ada manusia lain, hanya ada sebuah pulau beserta keindahannya.

Terdengar deburan ombak yang memecah karang. Angin yang mulai bersemilir panas, khas hembusan angin laut. Detak jantung kami mulai tergugah kembali. Setelah lelah ditengah perjalanan. Kaki kami tak terkontrol untuk tidak berlari. Menuju sebuah pantai yang belum tersentuh manusia. Alami dan menyejukkan mata. Bersandar tiga pulau kecil didepannya. Menghalangi ombak menuju pantai. Namun tetap deras ombak yang menyapu pinggiran tempat kami berpijak. Ohh.. Tuhan telah menciptakan sebuah pantai yang biru dengan lembaran hijau yang menyelimuti pulau ini. Sebuah keindahan sekali lagi yang dapat kunikmati, pantai Clungup Sendang Biru.

Sebuah perjalanan besar dari Scope fotografi, Machung. Sukses buat Scope.

Bromo

Sebenarnya cukup memalukan bagi orang Malang yang baru menginjakkan kakinya di penanjakan Bromo setelah usianya 20+. Tapi masih lebih mulia dibanding yang belum pernah sama sekali melihat lautan pasir Bromo. Aku dapat kesempatan untuk pergi kesana dengan anak-anak fotografi Scope, Machung University. Tak hanya senang-senang dan melampiaskan kepenatan setelah seminggu berkuliah, tapi juga melatih kejelian para anak Scope(sebut Scoper) untuk mengabadikan moment pada saat di kawasan Bromo. Mulai dari sunrise, luasnya lautan pasir, dan keindahan kawah bromo.

Pukul 02.00 pagi hari. Kami ber-13 orang mulai meninggalkan kota Malang. Dikeheningan malam yang melinyelimuti dunia, kami berpacu dengan waktu untuk mendapat sinar mentari pagi di atas puncak Bromo. Kami belah dinginnya malam yang berpadu dengan semilir angin. Jalanan yang semakin berongga dan tak rata lagi, bukan menjadi halangan bagi kami. Terlebih diriku, aku merasa ingin sesegera mungkin hadir di penanjakan. Menikmati keindahannya dan mengabadikan suguhannya.

Perjalanan yang cukup membuat adrenalin kami meningkat. Dengan jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak tajam serta suasa hutan yang berpadu dengan keheningan malam, sedikit membuat kendaraan kami mengalami kesulitan. Sempat tiga kali mobil Escudo 1.6 yang aku kendarai dengan 4 orang penumpang, mengalami kesulitan pada jalan yang menanjak curam. Pasalnya saat itu, ada sebuah motor dari rekan kami juga, yang harus menghentikan motornya karena jalan terlalu menanjak untuk dilewati. Namun itu tak jadi halangan kami untuk terus maju. Dengan sedikit haluan dan ruang kosong, dapat membuat mobil yang kami naiki memiliki kesempatan untuk menambah power dan rpm pada mesin. Sehingga jalanan yang cukup menanjak sekalipun dapat teratasi.

Pukul 04.00.kami tiba di depan gerbang taman wisata nasional Bromo. Terlihat disekeliling kami, banyak turis luar maupun domestik yang bersiap menuju penanjakan Bromo. Kami tak berlama-lama di gerbang masuk Bromo. Waktu menghalangi itu semua. Kami tancap gas kembali guna mengejar sunrise.

Kami tiba tepat waktu disana. Kami sempatkan untuk menunaikan sholat subuh. Wow...kakiku begitu dingin. Tak sanggup aku berkonsentrasi lama. Bahkan kubaca surat terpendek, guna mempersingkat sholatku. tak lebih dari 3 menit. super instan.

Disana banyak sekali turis yang berdiri menunggu terbitnya mentari. Mengawali hidup dihari ini. Awalnya awan terlihat biru tua dengan sedikit orange di tengahnya. Lama kelamaan orange itu semakin menguat. Membentuk setengah lingkaran yang memerah. Warna biru tua mulai memudar. Mentari itu membentuk cincin yang melingkar terang. Oh... indahnya salah satu ciptaan Tuhan.

Tak hanya sampai disitu kami disuguhkan keindahan oleh kuasaNya. Kami melewati sebuah hamparan pasir yang dikelilingi oleh kabut putih. Tempat itu dikenal dengan lautan pasir. Ternyata, Indonesia memiliki tempat seindah itu. Sebuah samudra pasir.

Tibalah kami di daerah kawah Bromo. Tapi tak semudah itu untuk melihat dan menikmati keindahan Bromo dari jarak dekat. Kami harus berjalan selama 30 menit dengan kontur tanah yang menanjak. Setelah itu, kami harus melewati anak tangga yang berjumlah sekitar 225 anak tangga. Cukup melelahkan. Namun semua itu akan terbayarkan dengan keindahan yang disugukan oleh sebuah Bromo.

Perjalanan ini cukup menyita raga dan pikiran, tapi sangat nikmat dirasakan. Sebuah perjalanan dari SCOPE . Sukses buat kita.

Komentar Teman



Buatan tulisan tangan


Masukkan Code ini K1-1C5CED-F
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com